Jumat, 23 Juli 2010

Lima Menit Lagi

Bookmark and Share
Sore hari di sebuah taman di West Coast Park, Singapura, di taman itu sedang ramai anak-anak yang asyik bermain, ditemani oleh orang tua mereka, Nampak terjadi diskusi yang hangat antara seorang ibu dengan seorang bapak, yang sedang asyik memperhatikan anak-anak mereka bermain.
“Tuh.., itu putraku yang di situ,” kata seorang ibu, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dengan T-shirt merah yang sedang meluncur turun diperosotan. Mata ibu itu berbinar, bangga diiringi dengan senyuman.
“Wah, aktif sekali bocah itu,” kata bapak di sebelahnya.
“Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,” sambungnya, memperkenalkan anaknya.
Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. “Ayo Jack, gimana kalau kita pulang sekarang, waktu sudah sore”, sambil memperhatikan jam tangan di tangan kirinya.
Jack, bocah kecil itu kemudian menghampiri sang ayah, dan dengan setengah memelas, berkata, “Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa…?”
Sambil melepaskan senyum terbaiknya, pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya.
Menit demi menit berlalu, sang ayah berdiri kembali, memanggil anaknya lagi. “Ayo, ayo, sudah waktunya pulang”
Lagi-lagi Jack memohon, “Ayah, lima menit lagi ya…. Cuma lima menit kok, ya? Boleh ya, Yah?” pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya, dan dengan meneruskan keasyikannya bermain.
Pria itu bersenyum dan berkata, “OK-lah, silahkan…”
“Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar,” ucap ibu yang di sampingnya, melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.
Pria itu membalas senyum, lalu berkata, “Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu wafat selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk.
Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi.
Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya….”

Renungan :

Hidup ini bukanlah suatu lomba.
Hidup ialah masalah membuat prioritas.
Prioritas apa yang Anda miliki saat ini?
Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi,
lima menit saja dari waktumu, dan engkau
pastilah tidak akan menyesal selamanya.

0 komentar:


 
 
..:: Perhatian !! terima kasih atas kunjungannya ^_^ silahkah berkunjung lagi di lain waktu ::..